Uncategorized

Sisi Hitam Covid-19: Sampah Masker yang Kian Meresahkan

Kasus Covid-19 di Indonesia kian hari kian meningkat. Pada data JHU CSSE COVID-19 DATA; tercatat rata-rata kasus baru Covid-19 di Indonesia per minggunya adalah 32.234. Jumlah kasus baru dan tingkat penularan masih sangat tinggi, yang mana menuntut orang-orang untuk tetap menggunakan masker ketika beraktivitas sehari-hari. Penggunaan masker merupakan langkah yang tepat dalam pencegahan dan pengendalian penyebaran virus Covid-19. Penggunaan masker selama pandemi sangat dianjurkan untuk semua kalangan masyarakat.

Perlindungan dari masker sangat berperan penting dalam mengurangi penyebaran Covid-19. Sehingga pemakaian masker secara efektif dan benar dipercaya dapat mengurangi penularan virus Covid-19. Pada masa pandemi ini, masker sangat dibutuhkan untuk menghalangi cairan berupa droplet atau partikel udara yang keluar dari pemakainya saat berbicara. Masker juga membantu menghalangi droplet orang lain menempel di wajah dan mencari jalan masuk ke dalam tubuh.

Masker yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah masker medis. Masker ini dipercaya memiliki standar yang terjamin dan mampu memberikan perlindungan yang optimal. Masker medis dirancang untuk penggunaan tunggal, berfiltrasi, dan lapisan bahan yang diproduksi seperti polipropilen dan polietilen atau selulosa. Jenis-jenis masker medis antara lain: masker bedah (surgical mask), masker KN95, masker N99, masker N100, masker R95, masker R100, masker P95, masker P99, dan masker P100.

Kebanyakan masker medis hanya bisa digunakan sekali pakai dalam jangka waktu 4 sampai 8 jam pemakaian. Alasannya karena masker telah terkontaminasi oleh kuman, virus, atau organisme berbahaya lain. Sehingga setelah penggunaan masker sekali pakai, masker harus segera dibuang. Dalam jurnal Frontiers of Environtmental Science and Engineering mengungkap bahwa penggunaan rata-rata masker sekali pakai sekitar 2,8 juta masker setiap menit, artinya hampir 3 juta masker terbuang setiap menit dan kemudian menjadi polusi masker.

Sampah masker yang menumpuk tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan seperti penyebaran dan penularan virus, tetapi juga menimbulkan polusi baru bagi kelangsungan hidup hewan, tumbuhan, dan ekosistem lingkungan. Masker medis sekali pakai mengandung bahan serat mikro plastik yang tidak dapat terurai dengan baik. Selain itu, tali pengikat masker medis terbuat dari plastik atau aluminium yang tidak ramah lingkungan, sehingga masker ini sama buruknya dengan plastik berbahaya yang dapat merusak keseimbangan ekosistem alam.

Penggunaan masker dalam jumlah banyak merupakan sebuah respons positif masyarakat karena tingginya penggunaan masker menunjukkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan cara menggunakan masker. Di sisi lain, penggunaan masker dalam jumlah banyak akan menimbulkan sampah yang akan merusak lingkungan. Penanganan sampah yang tidak tepat yang hanya dengan membuang masker sembarangan dan menumpuk masker di tempat terbuka akan menyebabkan virus berkumpul dan menyebar.

Dengan meningkatnya penggunaan masker maka meningkat juga polusi dari masker itu sendiri. Sehingga dibutuhkan langkah preventif untuk penanganan sampah masker. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan masker sekali pakai dengan memanfaatkan penggunaan masker kain bagi orang sehat. Masker kain berbeda dengan masker medis, karena dalam penggunaannya, masker ini masih bisa dicuci dan digunakan ulang. Penanganan sampah masker bisa dilakukan dengan penerapan protokol pengelolaan masker yang benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *