Uncategorized

Menasihati ala Socrates

cr. Ancient World Magazines

Nasihat adalah hal yang sangat sering kita dengar. Sebagai anak, pasti kita pernah mendengar nasihat dari yang lebih tua seperti ayah, ibu, paman, bibi, kakek, nenek, bahkan sampai tetangga. Namun, seiring bertambahnya usia, kita pasti akan menjadi si pemberi nasihat tersebut. Bisa kepada teman, pacar, saudara, bahkan diri kita sendiri.
Sebagai manusia yang baik, apakah kita sudah menasihati orang lain dengan benar? Apakah orang yang kita nasihati semakin termotivasi atau malah tersinggung? Nah, kali ini kita akan membocorkan “Metode Socrates” kepada sobat Shelter. Metode Socrates ini merupakan teknik yang sangat sederhana, tetapi seringkali cara ini diabaikan.
Dalam menasihati seseorang jangan pernah memulainya sesuai keinginan anda. Mulailah dengan yang anda setuju dengannya. Terus arahkan untuk menuju pada tujuan yang sama walaupun dengan metode yang berbeda. Pastikan agar dia mengatakan “Ya,Ya” dan jangan sampai mengatakan “Tidak”. Satu jawaban “Tidak” merupakan kecacatan terbesar dalam menasehati seseorang dan hal itu merupakan kesulitan terbesar yang akan anda alami.
Seorang Pembicara pada pembukaan akan selalu mendapatkan beberapa jawaban “Ya”, seperti
“Saya yakin bahwa kedatangan anda dalam ruangan ini untuk mendapatkan …….. , Bukankah begitu?”
“Saya telah menghasilkan ratusan juta dari penjualan ini, bukankah anda juga ingin begitu?”
Audiens dengan spontan pasti akan menjawab “Ya”. Bisa dibayangkan ketika audiens tidak setuju terhadap apa yang dibawakan pembicara tersebut.
Sekarang mari kita ambil contoh nyata, seorang teller bank kedatangan calon nasabah yang ingin membuka rekening di Bank tersebut. Semuanya berjalan lancar. Sampai pada saat pengisian formulir ada hal yang aneh dimata teller bank itu. Namun, calon nasabah itu tidak mengisi data mengenai keluarganya baik dari orang tua dan saudaranya.
Dengan formulir yang seperti itu, teller bank tidak akan menerima pembukaan rekening dari calon nasabahnya. Namun apakah teller langsung menegurnya dengan menyuruh si calon nasabah mengisi seluruh data tersebut. Tentu saja tidak, teller bank itu paham jika cara itu tidak akan berhasil.
Dengan Metode Socrates yang telah dipelajari teller bank, iaa memulai menanyakan hal yang pastinya akan disetujui calon nasabah itu.
Teller bank memulainya dengan menanyakan data yang dikosongi
“Mengenai data keluarga anda, ketika anda wafat nanti apakah anda tidak ingin jika uang di rekening anda diserahkan kepada keluarga yang bersangkutan dengan anda?”
Dengan segera calon nasabah menjawab “Ya, tentu saja”
“Jadi, bukankah itu ide yang bagus bila anda mengisi data mengenai keluarga anda?”
Sekali lagi calon nasabah menjawab dengan “Ya, itu ide yang bagus”
Dengan pendekatan “Ya, Ya” ini sikap calon nasabah segera melembut. Ia memberikan segala informasi terkait rekeningnya dan mengisikan nama ibunya sebagai ahli warisnya.
Metode Socrates ini mengajukan pertanyaan yang mau tidak mau lawannya setuju. Setelah menggenggam penuh “Ya”, secara tidak sadar lawan bicara akan memeluk kesimpulan yang beberapa menit lalu dia sangkal dengan keras kepala.
Mudah, kan? Atau malah sulit? Tidak apa-apa, kita bisa belajar bersama-sama. Bukankah kita juga ingin orang yang kita sayangi agar mengikuti nasehat kita? Semoga informasi ini membantu ya. Terima kasih, semoga sehat selalu.
sumber : quora.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *