Uncategorized

Malu Bertanya, Awas Tersesat!

cr. jameskennedymonash

Hai sobat shelter, sudah lama sekali ya nggak bersua. Gimana kabarnya? Semoga sehat-sehat saja, ya. Belum lama ini, kasus COVID-19 naik tajam, bahkan beberapa negara mulai menutup diri dari Indonesia untuk sementara karena dikhawatirkan akan membawa. COVID-19 jika berkunjung ke negara mereka. Ngeri banget, ya? Jadi, tetap di rumah saja dan jika terpaksa sekali untuk keluar, harap patuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Meskipun kita masih berada di tengah situasi pandemi, beberapa instansi pendidikan sudah memulai tahun ajaran baru. Di kampus kita tercinta, UIN Maulana Malik Ibrahim, juga sudah mulai mengadakan kegiatan belajar mengajar secara daring sejak 31 Agustus 2020. Kalau secara daring, mahasiswa dituntut untuk lebih aktif dari biasanya seperti mengajukan pertanyaan ke dosen atau teman yang presentasi. Tapi pernah nggak sih sobat, kalian merasa malu banget bertanya di kelas padahal udah mempersiapkan pertanyaan dengan kalimat yang baik dan benar, eh pas di kelas malah diam aja? Kira-kira kenapa kok bisa begitu? Apakah karena kita malu atau malas? Bisa jadi keduanya atau bisa jadi ada alasan lain yang melatarbelakangi perilaku kita tersebut.

Seorang mahasiswa bernama Levina, membagikan ceritanya saat berpartisipasi dalam sebuah bootcamp mengenai entrepreneurship di Syracuse University, Syracuse, New York selama beberapa minggu pada tahun 2018. Menurutnya, di sana terdapat beberapa hal yang menurutnya akan sangat keren jika diterapkan oleh tenaga pendidik di Indonesia, antara lain :

1. Passionate. Tenaga pengajar di Amerika terlihat menikmati pekerjaannya, mengajar secara fun dengan penjelasan yang menarik. Mereka sangat peduli terhadap perkembangan muridnya.

 

2. Menghargai dan mengapresiasi pendapat. Ketika seorang murid bertanya atau mengungkapkan pendapat, mereka selalu menghargai dan mengapresiasinya. Hal tersebut mampu membangun rasa percaya diri siswa dan memberikan contoh kepada murid lainnya untuk tidak menjadi seorang yang judgemental. Sangat terlihat jelas bahwa mahasiswa disana tidak takut untuk berpendapat dan bertanya, walaupun terkadang pertanyaannya begitu receh menurut saya. Saya sebagai orang Indonesia yang belajar disana merasakan kesulitan untuk berpendapat karna sudah terbiasa dengan cara belajar di Indonesia.

 

3. Jumlah siswa tidak terlalu banyak. Dengan kecilnya perbandingan murid dengan guru, akan lebih mudah bagi guru untuk mengetahui perkembangan muridnya. Sehingga murid pun mendapatkan perhatian yang cukup dari guru.

 

4. Guru tidak merasa superior. Sebagai guru, mereka tidak merasa keberatan untuk menerima banyak pertanyaan dan kritisi dari muridnya. Yang saya rasa, mereka terkesan jauh lebih santai dan lebih friendly dibandingkan guru di Indonesia.

 

Jadi selain murid, tenaga pendidik juga berperan dalam menciptakan suasana kelas yang nyaman agar para murid tidak merasa malu saat bertanya. Para murid atau mahasiswa juga harus sering berlatih meningkatkan kepercayaan diri, ingat “Malu Bertanya, Sesat di Jalan”. Nah, kita sebagai generasi penerus bangsa ini harus bisa mengubah bangsa kita menjadi bangsa yang lebih kritis dan maju dimulai dari hal-hal kecil seperti menciptakan suasana kelas yang nyaman. Semangat, para masa depan bangsa!!!


sumber : quora

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *