Uncategorized

Matahari yang Menyinari Bumi


Nama ku Fatimah, biasa dipanggil Fatim. Sekarang aku akan sekolah di sebuah sekolah yang mana diwajibkan bagi siswanya tinggal di asrama. Aku berasal dari desa yang sangat jauh dari kota tersebut. Malam ini adalah waktu terakhir aku harus berada di asrama sebagai murid baru, sedangkan aku masih di rumah dengan memikirkan banyak hal agar aku tidak pergi kesana. Aku masih terngiang sekolah impianku yang bukan disana, tapi apalah daya aku harus tetap pergi untuk menuntut ilmu karena sekolah itulah yang menerima ku. Kemudian, ibu nya berkata “yang ikhlas nduk, dimanapun kamu sekolah asalkan kamu sungguh-sungguh, insyaallah kamu akan jadi orang sukses nantinya”. Dengan nasehat ibu nya aku sadar bahwa aku mempunyai misi besar yang belum terlaksana, yaitu membahagiakan kedua orangtua yang selama ini menyayangi dan merawatku. Lalu, aku kuatkan hati agar ikhlas dan niatkan untuk bersungguh-sungguh.
Akhirnya dengan hati yang lapang dan keyakinan kuat untuk bersungguh-sungguh, aku berangkat menuju sekolah, Sekolah Matahari. Aku selalu bertanya-tanya apa yang arti dari nama sekolah itu, karena unik dan aneh. Mungkin itulah yang dijadikan ciri khas agar banyak siswa yang mau sekolah disana.
Setibanya disana, aku berharap bahwa aku akan memiliki teman. Aku akan memiliki banyak teman, pikirku. Setelah masuk, aku diantar ke kamar. Setiap kamar berjumlah 6 orang. Aku termasuk anak terakhir yang datang. Tidak peduli bagaimanapun sifat mereka, mereka tetaplah temanku 3 tahun ini. Aku mencoba untuk berpikiran positif agar aku juga kerasan tinggal disana.
Saat masuk kamar, aku melihat 4 orang berada didalam duduk di kasurnya masing-masing. Kemudian aku mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Setelah itu, aku mengemasi barang-barang. Selesai itu, aku langsung tidur, karena sangat lelah perjalanan yang harus ku tempuh tadi agar sampai disini sebelum jam masuk asrama berakhir.
Keesokan harinya, aku bangun lebih awal dan mengikuti serangkaian kegiatan dari sholat shubuh berjamaah sampai kegiatan pra-masuk sekolah. Akhirnya aku merasa lapar dan pergi ke kantin. Dari awal masuk, alhamdulillah aku mempunyai banyak teman. Aku memberanikan diri untuk mengenal dengan menyapa dan menanyakan identitas mereka. Ternyata ada yang dekat rumahku, ada yang dulu sekolah yang sama denganku, ada yang saudara temanku dulu, semuanya seperti takdir untuk dipertemukan. Aku merasa senang dan bahagia, “aku mendapat banyak teman baik disini”, “kurasa aku akan baik-baik saja”.
Hari-hari berlalu, tidak terasa waktu 7 bulan berlalu, banyak kegiatan yang harus aku lakukan, banyak tugas yang harus aku kerjakan, banyak tuntutan yang harus aku penuhi, itu semua aku lakukan dengan perasaan senang dan bahagia karena adanya kebersamaan. Karena ada teman yang selalu mendukung, menyemangati, ada do’a yang memiliki kekuatan terhebat dari apapun dan dukungan orangtua tentunya. Oh iya, aku baru tahu arti dari nama sekolahku setelah aku berada disana, yaitu matahari yang selalu menyinari bumi. Matahari adalah sekolah dan bumi adalah siswanya, jadi di sekolah itu diharapkan siswa-siswanya selalu bersinar dengan berbagai prestasi, bersinar dengan semangatnya dalam menuntut ilmu, bersinar dalam persahabatannya dan bersinar dalam akhlakul karimahnya dengan para guru yang siap membantu.
Kebahagiaan bersama teman-teman kamar yang paling aku rasakan indahnya. Karena dengan tinggal bersama dalam satu ruangan membuat rasa persatuan kami erat dan kuat. Mereka selalu kocak walaupun usil, sering membuatku ikut tertawa dan bercanda. Tak jarang aku ikut menjahili teman yang lain dan akhirnya tertawa bersama.
Hingga suatu hari, aku mulai nakal dan membangkang. Aku mulai jarang ikut sholat berjamaah, belajar jarang, ngaji tidak pernah, hanya menonton film, mendengarkan musik dengan headset serta tidak menghiraukan siapapun yang bicara. Aku pun tidak tahu apa yang membutakan hati dan pikiranku. Banyak hukuman-hukuman yang diberikan kepadaku. Aku tetap menjalankannya walaupun hati tidak ikhlas dan perkataan tidak sedap teman-teman kamar mulai muncul. Mulai ada masalah diantara kami.
Mereka mulai jengkel dan marah kepadaku karena aku yang keras kepala dan sulit diberi nasehat. Aku biarkan mereka melakukan apa saja semau mereka, aku hanya berpikir akulah yang benar, aku punya alasan. Akhirnya hubungan kami mulai renggang dan hanya ada satu orang yang bisa ku percayai di kamar itu. Dia memang sosok teman yang paling baik daripada lainnya, pikirku.
Tapi lama kelamaan aku tidak tahan dan akhirnya menangis di depan mereka. Aku memang orang yang lemah dan tidak kuat saat harus bermasalah dengan orang-orang yang ku sayangi. Akhirnya aku bilang “iya aku salah. Aku tahu aku salah dan kalian lah yang benar. Kalian teman yang baik, sangat baik, tapi kenapa kalian tidak pernah menanyakan apa yang aku rasakan? Apakah ada masalah? Kenapa aku menggunakan headset? Kenapa aku selalu mendengarkan musik? Kenapa aku memilih tertawa bersama kalian? Kenapa aku hanya diam saat kalian menjahiliku walaupun sebenarnya menyakiti hatiku karena bercandanya kalian itu berlebihan? Kenapa aku tiba-tiba nakal? aku ingin orang menerimakau apa adanya, dengan tau sifat burukku mereka akan kelihatan mana yang ikhlas berteman denganku”.
“Aku memang salah, sangat salah. Aku bukan anak yang baik dan aku bukan teman yang baik dan pantas untuk kalian yang lebih baik dariku. Inilah aku, Fatim apa adanya. Mengingatkannya kalian agar aku tidak berbuat buruk itu sangat menyakitkan hati. Memangnya aku butuh kekerasan dari kalian?. Nggak. Aku hanya butuh dukungan dan kepercayaan kalian, maka aku bisa menjadi baik. Ingatkanlah dengan mengatakan aku percaya kamu anak baik dan kamu bisa”.
“Kalian tidak akan mungkin tahu jika aku tidak makan 5 hari. Iya, aku ingin sakit. Aku ingin pergi ke rumah sakit agar aku bisa jauh dari kalian. Aku sudah gak tahan. Aku memang yang salah. Silahkan kalian menjauhiku. Oh iya, ingatkah kalian saat membangunkanku, sebenarnya aku tidak tidur. Aku ingin mendengar apa yang kalian akan bicarakan tentang aku yang memang buruk ini. aku bukan teman yang baik tapi aku berharap kalian akan selalu bahagia dan sukses. Selamat tinggal teman-teman, maafkan semua kesalahanku. Terimakasih semua kenangannya”.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Aku tidak tahu akan pergi kemana. Haruskah aku kabur seperti 2 tahun yang lalu ataukah aku pulang saja. Tidak tidak, aku pergi sajalah. Aku akan naik kereta dan ke luar kota untuk selamanya. Ya Allah, maafkan aku. Ku langkahkan kaki ku naik angkutan umum lalu pergi ke stasiun. Aku sangat berpengalaman dalam hal ini, karena peristiwa 2 tahun yang lalu. Benar atau salah aku tetap berangkat. Dengan uang secukupnya, aku memutuskan untuk pergi ke kota Ikan, daerah pesisir.
Dalam perjalanan banyak hal yang ku pikirkan. Tiba-tiba bug.. jatuh. Aku pingsan dan tidak sadar sama sekali. Aku dibawa ke rumah sakit terdekat. Untungnya masih di daerah kota ku. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana aku bisa pingsan, siapa yang membawaku dan lain sebagainya. Mungkin dengan melihat kartu identitas ku, akhirnya orangtua dipanggil dan datang.
“uh…” aku terbangun dari tidak sadarku. Ku lihat sekeliling dengan saksama, aku di ranjang, ada infus menggantung, ada sofa, banyak orang disekitarku, ternyata aku di rumah sakit. Kemudian, dokter datang dengan perawat membawa alat-alat untuk memeriksaku. Aku hanya bisa melihat dan diam, lemah, tidak bisa bergerak apalagi berkata sepatah kata. Ibuku menangis disampingku, bapakku hanya melihat dan ada kakak-kakak ku juga. Aku senang semua berkumpul.
Hal terakhir yang terbesit dalam pikiranku adalah harus meminta maaf kepada semua orang, harus. Kemudian ku coba untuk mengatakannya “maafkan fatim ibu, bapak dan semuanya” aku mengatakan dengan tidak lancar seperti biasanya. Semua orang mengangguk dan tersenyum menyemangati. Aku juga tersenyum.
Suasana apa ini, mengapa seperti aku akan mati. Aku lega telah mengatakannya tapi orang-orang menangis tersedu-sedu, sebenarnya apa yang terjadi. Aku tetap tidak tahu, sampai akhirnya aku tertidur. Kemanakah aku akan pergi, apakah aku akan mati. Beberapa saat kemudian aku bangun, mataku terbuka dan semuanya memanggil namaku dengan tersenyum bahagia. Apa yang terjadi?? Kepalaku pusing tidak bisa berpikir.
Ternyata aku mengalami masa kritis beberapa saat lalu. Aku sebenarnya sakit apa?. Aku bertanya-tanya dalam hati. Akhhirnya aku beranikan diri untuk bertanya “ada apa? Aku sakit apa?”, dokter terlihat bingung akan menjawab apa. Namun tetap menjawab pertanyaanku “kamu terkena kanker otak stadium akhir, tapi masih ada harapan untuk sembuh, tenanglah”. Apa??? Aku tetap terkejut dan menangis. Aku bertanya-tanya apa salahku sehingga aku diberikan penyakit ini. Mungkin salahku terlalu banyak.
Hari-hari berlalu, aku tetap menjalani hidup dengan apa adanya, mencoba untuk ikhlas dan menerima serta bersyukur atas apa yang telah diberikan kepadaku, apapun itu. Sembari melakukan pengobatan, aku juga memutuskan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat, seperti amal atau baksos dan lain-lain. aku berharap bisa menjadi orang yang bermanfaat di sisa waktu hidupku. Tidak lupa aku mengabadikan setiap moment dengan berfoto, akan ku jadikan album hidupku sebelum aku benar-benar menghilang. Setidaknya ada hal baik yang ku lakukan.
2 bulan berlalu, aku tetap menjalani pengobatan. Aku mulai lelah, rambutku hilang, sekarang aku gundul. Aku tetap mensyukurinya, bagaimanapun keadaanku sekarang. Dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang aku lakukan, membuat ku lupa penyakit yang ada di tubuhku dan segala kesedihanku.
Malam ini, aku akan menghadiri acara khotmil serta sholawat nabi bersama jamaah di dekat rumah. Suasananya sangat ramai dan tentram. Aku suka acara ini. sekitar pukul 8 acara dimulai dan aku sudah duduk di deretan depan bersama ibu, kakak dan saudar-saudaraku yang lain. Alhamdulillah, aku sangat senang malam ini Ya Allah, terimakasih dan maafkan hambamu yang mengabaikan segala kenikmatan yang telah diberikan oleh engkau kepadaku.
Perlahan aku mulai menutup mata dan pergi selamanya. Aku tidak tahu acara itu menjadi moment terakhir sebelum ajal menjeput. Aku bersyukur telah dikaruniai banyak anugerah serta orang-orang hebat yang sangat sayang kepadaku. Aku berharap Allah akan membalas semua kebaikan mereka selama ini. Selamat tinggal kehidupan, sampai jumpa di Surga nya Allah SWT. J
Tak lupa aku tinggalkan kenangan sebuah video, video hidupku. Didalamnya adalah video moment-moment indah bersama teman-teman, keluarga, acara sosial dan lain sebagainya. Intinya hanya ada kebahagiaan dalam hidupku. Aku bahagia dan bersyukur telah diberikan hidup oleh Allah yang maha kuasa. (Korsi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *